Radio Rimba Raya, Suara dari Gayo yang Menegaskan “Indonesia Masih Ada”

ABDYA OFFICIAL

- Redaksi

Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:35 WIB

5035 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ABDYA OFFICIAL |  Di tengah rimbunnya hutan Dataran Tinggi Gayo, pada sebuah kampung kecil bernama Rimba Raya di Kecamatan Pintu Rime, Aceh, pernah berdiri sebuah stasiun radio darurat yang suaranya menggema hingga keluar negeri. Di saat republik berada dalam ancaman pembubaran secara de facto oleh kekuatan kolonial, Radio Rimba Raya justru menegaskan satu pesan sederhana namun menentukan: Indonesia masih ada.

Radio ini dioperasikan oleh Tentara Republik Indonesia (TRI) Divisi X/Aceh di bawah pimpinan Kolonel Husein Yusuf. Dari pos terpencil yang kini masuk wilayah Kabupaten Bener Meriah itu, para pejuang menyiarkan kabar keberadaan Republik Indonesia ke berbagai penjuru dunia, ketika Belanda gencar menyebarkan propaganda bahwa negara baru bernama Indonesia telah tumbang.

“Republik Indonesia masih ada, karena pemimpin republik masih ada. Tentara republik masih ada, pemerintah republik masih ada, wilayah republik masih ada, dan di sini adalah Aceh,” demikian salah satu cuplikan siaran Radio Rimba Raya yang kemudian dikenal luas di kalangan pejuang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Beroperasi sebagai Radio Republik Indonesia Darurat, Radio Rimba Raya mulai menyiarkan pesan-pesan perjuangan ke luar negeri pada 23 Agustus 1949 hingga 2 November 1949. Menggunakan pemancar berkekuatan sekitar satu kilowatt pada gelombang 19,25 meter dan 61 meter, siaran itu dipancarkan dari jantung belantara Gayo dengan peralatan yang serbaterbatas, namun dengan sasaran yang ambisius: dunia internasional.

Untuk menjangkau pendengar mancanegara, siaran tidak hanya dilakukan dalam bahasa Indonesia, tetapi juga dalam bahasa Inggris dan Urdu. Melalui tiga bahasa itu, Radio Rimba Raya menyampaikan bahwa Indonesia belum runtuh, pemerintahan republik masih berfungsi, dan perlawanan terhadap agresi militer Belanda terus berlangsung.

Gelombang Radio Rimba Raya tercatat dapat ditangkap dengan cukup jelas di Semenanjung Melayu (kini Malaysia), Singapura, Saigon (Vietnam), Manila (Filipina), bahkan hingga Australia dan sejumlah negara di Eropa. Di tengah perang informasi pada akhir dekade 1940-an, keberhasilan stasiun darurat di pedalaman Aceh ini menembus batas negara menjadi penopang penting bagi diplomasi republik yang masih muda.

Siaran tersebut menjadi penyeimbang informasi atas klaim Belanda yang berupaya menyudutkan Republik Indonesia di forum-forum internasional. Ketika propaganda kolonial menyatakan bahwa republik telah tidak lagi eksis, Radio Rimba Raya justru menghadirkan bukti sebaliknya: ada aparat pemerintahan, ada militer, ada wilayah kekuasaan, dan ada suara resmi yang masih berbicara atas nama Indonesia. Dalam konteks itu, radio ini kerap disebut sebagai salah satu faktor yang menguatkan posisi Indonesia di mata dunia hingga banyak negara kemudian memberikan pengakuan terhadap kemerdekaan republik.

Radio Rimba Raya terus bersiaran hingga menjelang pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Pemerintah Belanda pada 27 Desember 1949 di Jakarta, sebagai hasil Konferensi Meja Bundar di Den Haag. Fungsi strategisnya tidak hanya sebagai corong informasi perang kemerdekaan, tetapi juga menjadi cikal bakal siaran luar negeri lembaga penyiaran resmi negara di kemudian hari.

Nama Radio Rimba Raya tidak hilang bersama bergantinya zaman. Untuk mengenang peran penting stasiun radio darurat itu, didirikan Tugu Perjuangan Radio Rimba Raya di Kampung Rimba Raya, Kecamatan Pintu Rime, Kabupaten Bener Meriah. Monumen tersebut menjadi penanda fisik bahwa dari kawasan yang dulu terisolasi itulah suara Indonesia pernah berseru ke dunia internasional.

Sementara itu, perangkat pemancar yang digunakan Radio Rimba Raya kini tersimpan sebagai koleksi sejarah di Museum Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat di Yogyakarta. Peralatan tersebut teregistrasi dengan nomor 60.607.318, disertai keterangan singkat: “Pemancar hasil selundupan dari Malaya, digunakan oleh Pemerintah RI di Sumatera/Aceh 1948.”

Lebih dari tujuh dekade berlalu, Radio Rimba Raya tetap dikenang sebagai salah satu simbol perlawanan informasi pada masa revolusi. Dari sebuah kampung di pedalaman Aceh, suara yang membawa pesan “Indonesia masih ada” itu ikut memastikan republik tetap diakui, baik oleh rakyatnya sendiri maupun oleh dunia.

Berita Terkait

Manusia Jawa: Jejak Homo Erectus dari Pulau Jawa
Ironi Sejarah: Mengulas Nasib Tokoh Pendiri Bangsa yang Tersisih oleh Sistem
Menelusuri Jejak PDRI: Kala Hutan Sumatera Menjadi Benteng Terakhir Kedaulatan Indonesia
Misteri Tujuh Sosok yang Diyakini Hidup hingga Hari Kiamat
Menelusuri Akar Sejarah Manusia: Kisah Nabi Adam AS dan Awal Peradaban
Menelusuri Perdebatan Skala Banjir Nabi Nuh: Antara Cakupan Global dan Lokal

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 11:24 WIB

Manusia Jawa: Jejak Homo Erectus dari Pulau Jawa

Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:35 WIB

Radio Rimba Raya, Suara dari Gayo yang Menegaskan “Indonesia Masih Ada”

Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:28 WIB

Ironi Sejarah: Mengulas Nasib Tokoh Pendiri Bangsa yang Tersisih oleh Sistem

Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:17 WIB

Menelusuri Jejak PDRI: Kala Hutan Sumatera Menjadi Benteng Terakhir Kedaulatan Indonesia

Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:11 WIB

Misteri Tujuh Sosok yang Diyakini Hidup hingga Hari Kiamat

Rabu, 26 Agustus 2026 - 09:58 WIB

Menelusuri Perdebatan Skala Banjir Nabi Nuh: Antara Cakupan Global dan Lokal

Berita Terbaru

ARTIKEL

Manusia Jawa: Jejak Homo Erectus dari Pulau Jawa

Rabu, 26 Agu 2026 - 11:24 WIB

ARTIKEL

Misteri Tujuh Sosok yang Diyakini Hidup hingga Hari Kiamat

Rabu, 26 Agu 2026 - 10:11 WIB