Menelusuri Perdebatan Skala Banjir Nabi Nuh: Antara Cakupan Global dan Lokal

ABDYA OFFICIAL

- Redaksi

Rabu, 26 Agustus 2026 - 09:58 WIB

5060 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peristiwa banjir besar pada masa Nabi Nuh AS telah lama menjadi topik diskursus panjang dalam literatur keagamaan dan kajian sejarah peradaban manusia. Peristiwa yang tercatat dalam berbagai kitab suci serta memori kolektif beragam budaya kuno di seluruh dunia ini kembali dikupas secara mendalam untuk membedah misteri skala kehancurannya, apakah menutupi seluruh permukaan bumi atau terbatas pada wilayah peradaban manusia saat itu.

Dalam kajian yang ditayangkan oleh kanal YouTube LUMINA pada Rabu, 26 Agustus 2026, dijelaskan bahwa banjir tersebut merupakan bentuk murka Ilahi akibat penyimpangan akidah yang dilakukan kaum Nabi Nuh. Selama 950 tahun, Nabi Nuh menyerukan tauhid di tengah masyarakat yang terjerumus dalam praktik penyembahan berhala. Keteguhan beliau dalam membangun bahtera di tengah gurun, meski sempat menuai ejekan keras, menjadi titik balik penyelamatan segelintir orang beriman sebelum azab menenggelamkan peradaban yang menolak risalah kenabian.

Banyak ulama memberikan pandangan bahwa skala banjir tersebut kemungkinan besar bersifat lokal namun masif. Argumen ini didasarkan pada konteks dakwah Nabi Nuh yang ditujukan secara spesifik kepada kaumnya pada masa itu, di mana sebaran populasi manusia belum mencakup seluruh penjuru dunia seperti saat ini. Prinsip keadilan Ilahi pun menjadi landasan, di mana azab diturunkan sebagai konsekuensi langsung bagi kaum yang secara sadar menolak seruan kenabian setelah melalui proses dialog panjang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kesamaan narasi mengenai air bah yang muncul dalam tradisi berbagai bangsa—seperti epos Gilgamesh di Sumeria, kisah Manu dalam tradisi Hindu, hingga legenda di peradaban suku Maya dan Inka di Amerika—menjadi bukti kuat bahwa peristiwa tersebut adalah fakta sejarah, bukan sekadar dongeng. Terlepas dari perdebatan mengenai jangkauan geografisnya, substansi utama dari kisah ini adalah pesan abadi tentang keimanan, kesabaran dalam menghadapi tantangan, dan janji keselamatan bagi mereka yang taat kepada ketetapan Tuhan. (*)

Berita Terkait

Manusia Jawa: Jejak Homo Erectus dari Pulau Jawa
Radio Rimba Raya, Suara dari Gayo yang Menegaskan “Indonesia Masih Ada”
Ironi Sejarah: Mengulas Nasib Tokoh Pendiri Bangsa yang Tersisih oleh Sistem
Menelusuri Jejak PDRI: Kala Hutan Sumatera Menjadi Benteng Terakhir Kedaulatan Indonesia
Misteri Tujuh Sosok yang Diyakini Hidup hingga Hari Kiamat
Menelusuri Akar Sejarah Manusia: Kisah Nabi Adam AS dan Awal Peradaban

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 18:55 WIB

Ketua Umum Bhayangkari Resmikan Secara Daring Bantuan Fasilitas Air Bersih di Gampong Cot Ara Kuta Blang

Rabu, 23 September 2026 - 04:15 WIB

Perkuat Sinergitas, Kapolres Bireuen Hadiri Bazar Pasar Murah Sambut HUT TNI Ke-81

Minggu, 20 September 2026 - 17:33 WIB

Kapolres Bireuen Hadiri Peresmian Jembatan Krueng Tingkeum Kuta Blang, Mobilitas Masyarakat Kembali Normal Pasca Bencana

Selasa, 1 September 2026 - 20:56 WIB

Sistem Buka Tutup Jembatan Krueng Tingkeum Kutablang Segera Berakhir

Berita Terbaru